Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Friderica Widyasari Dewi, memberi pengantar dalam acara Sharia Economic Outlook 2014, di BEI, 13 Desember 2013. HERU LESMANA SYAFEI/ SHARING

Pasar Modal Indonesia Masih Akan Fluktuatif

Secara keseluruhan kinerja pasar modal Indonesia masih akan tetap berfluktuasi dan cenderung volatile.  Pasar sukuk di 2014 masih akan didominasi oleh penerbitan sukuk oleh pemerintah. Sementara, penerbitan sukuk korporasi diprediksi akan menurun.

Antusiasme pemerintah dalam penerbitan sukuk telah dimulai di awal bulan Januari 2014 saat menerbitkan sukuk dana haji sebesar Rp 3 triliun bertenor 6 tahun. Pada tanggal 3 Januari 2013, pemerintah Republik lndonesia menerbitkan SDHI 2020 C melalui penempatan yang dikelola oleh Kementerian Agama pada SBSN dengan metode private placement. Nilai kupon yang ditetapkan sebesar 8,3 persen per tahun dengan akad sukuk yaitu ijarah al khadamat. Secara total pemerintah menargetkan pembiayaan APBN melalui penerbitan Surat Berharga Negara secara neto sebesar Rp 205,07 triliun pada 2014.

Pada 2014 pasar sukuk memang masih akan tetap dimotori oleh sukuk negara. Dalam Outlook Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) 2014, defisit APBN yang masih akan terjadi mengharuskan pemerintah untuk mencari sumber dana yang dapat digunakan untuk membiayai defisit anggaran. Di sisi lain, kebijakan BI yang memutuskan untuk meningkatkan BI rate akan membuat tingkat suku bunga pasar mengalami peningkatan yang pada akhirnya akan meningkatkan biaya dana seperti obligasi dan sukuk. Oleh karena itu, emisi sukuk korporasi diperkirakan akan mengalami penurunan di tahun 2014.

Penurunan jumlah dan nilai emisi obligasi, sukuk korporasi dan efek beragun aset sudah terlihat di tahun 2013. Dalam rilisnya, Bursa Efek Indonesia membandingkan periode 2012 dengan 2013, dimana jumlah emisi pada tahun 2013 menurun sebesar 10,29 persen dan nilai emisi menurun sebesar 15,56 persen.  Penurunan tersebut disebabkan karena kondisi pasar yang disertai dengan kenaikan BI rate sebanyak 5 kali sejak Juni sampai dengan Desember 2013. Total yang tercatat sampai akhir 2013 adalah 27 emisi sukuk dan 34 seri sukuk senilai Rp 7,103 triliun.

Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Friderica Widyasari Dewi, memberi pengantar dalam acara Sharia Economic Outlook 2014, di BEI, 13 Desember 2013.  HERU LESMANA SYAFEI/ SHARING
Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Friderica Widyasari Dewi, memberi pengantar dalam acara Sharia Economic Outlook 2014, di BEI, 13 Desember 2013.
HERU LESMANA SYAFEI/ SHARING

Berbicara mengenai literasi keuangan di pasar modal, Direktur Bursa Efek Indonesia, Friderica Widyasari Dewi mengakui tingkat literasi masyarakat masih rendah. Hal ini disebabkan jumlah investor masih sedikit dan terbatas hanya untuk segmen tertentu yaitu kalangan menengah. “Pasar modal adalah suatu industri yang tidak mungkin untuk ke semua karena resources kita terbatas,” kata Friderica.

Jumlah investor pasar modal di Indonesia masih sedikit. Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah sub rekening efek sekitar 405 ribu investor. Ditambah dengan investor di sukuk ritel dan reksa dana berjumlah sekitar 1 juta investor. “Jumlah investor kurang dari satu persen, dibanding Malaysia dan Singapura yang sudah sampai 30 persen, agak sulit untuk apple to apple dengan mereka karena mereka sudah lebih aware,” kata Friderica.

Sementara, di pasar reksa dana manajemen investasi sudah mulai meningkatkan penjualan produk syariah menjadi indikasi positif di tahun 2014. Namun, khusus untuk reksa dana berpendapatan tetap yang pendapatannya diinvestasikan ke sukuk, kinerjanya masih akan cenderung melambat karena pasar sekunder untuk produk sukuk masih belum terlalu berkembang.