Proyeksi menurunnya pasar sukuk di tahun ini akan membuat kelas aset syariah lainnya menjadi pilihan.

Global Head of Islamic Finance Standard & Poor’s Mohamed Damak, memperkirakan likuiditas yang rendah akan membuat investor berlaku lebih hati-hati terhadap risiko dan selektif, sehingga hal ini akan meningkatkan harga. “Karena adanya kompleksitas dalam menerbitkan sukuk, beberapa negara mungkin akan memilih jalur konvensional saja,” tukas Damak dilansir dari Islamic Finance News, Kamis (7/1).
Di sisi lain, menurunnya pasar sukuk juga akan menciptakan peluang bagi instrumen investasi lainnya untuk bersinar, seperti ekuitas syariah. Instrumen investasi tersebut dinilai bisa menjadi alternatif yang memungkinkan di tengah melambatnya pasar sukuk dalam 12 bulan mendatang. Baca: 2016, Sukuk Global Penuh Tantangan
- Bank Mega Syariah Umumkan Pemenang Poin Haji Berkah Tahap 3
- BSI Resmi Naik Kelas Sebagai Persero, Mayoritas Pembiayaan ke Segmen Konsumer dan Ritel
- BCA Syariah Luncurkan BSya Digital Membership Card Ivan Gunawan Prive dan Mandjha
- CIMB Niaga Ajak Nasabah Kelola Gaji dan Finansial dengan Lebih Bijak melalui OCTO
Ia menambahkan harga minyak dapat memperkecil pasar lebih lanjut jika harganya terus anjlok, sehingga mendorong beberapa negara Dewan Kerjasama Teluk dan Malaysia untuk mengurangi pengeluaran investasi. “Turunnya harga minyak juga mengurangi simpanan dan likuiditas perbankan, termasuk bank syariah,” katanya.
Meski pasar sukuk diperkirakan melambat, masih ada optimisme yang muncul akan kebangkitan pasar ini. “Kami masih mengharapkan adanya dukungan penuh dari investor sukuk bagi penerbit dari wilayah Teluk dan Asia,” ujar Analis Riset Aberdeen Islamis Asset Management Tai Li-Yian. Pada 2015 pasar sukuk mencapai 63,5 miliar dolar dan pada 2014 mencapai 116,4 miliar dolar AS.
[bctt tweet=”Pasar #Sukuk diperkirakan melambat, namun masih ada optimisme di Asia dan Teluk”]

