Penerbitan sukuk global di tahun ini diperkirakan akan mencapai 130-140 miliar dolar AS. Hal itu diungkapkan Deputy Chief Executive Officer RAM, Promod Dass, sebagaimana dilansir dari Islamic Finance News, Jumat (9/5).

Dass pun berpendapat dengan dukungan pasar yang kuat di Malaysia serta visi Dubai untuk menjadi pusat ekonomi syariah, maka kedua negara tersebut harus melihat peluang untuk saling berkolaborasi bersama dalam mengembangkan industri keuangan syariah pada skala global. “Dubai dan Malaysia adalah pintu gerbang ke wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara, serta Asia Tenggara, dan ada potensi besar untuk transaksi lintas-batas,” katanya.
Menurut Dass, kebanyakan aktivitas penghimpunan dana telah mengalir dari Malaysia ke kawasan Teluk. Ia pun mengusulkan agar investor Teluk bisa melirik sukuk yang diterbitkan di Malaysia dan kawasan Asia Tenggara lainnya, sehingga bisa melihat variasi struktur sukuk.
Ambisi Dubai yang ingin menjadi pusat ekonomi syariah diperkirakan akan menjadi katalis kuat dalam pengembangan industri non ribawi ini. “Di tengah lanskap keuangan yang didominasi oleh pusat keuangan internasional konvensional, sangatlah bagus melihat Dubai menyatakan keinginannya menjadi pusat keuangan syariah,” ujar Dass.
Sebelumnya, pemerintah Dubai menerbitkan sukuk bertenor 15 tahun sebesar 750 juta dolar AS. Langkah tersebut dinilai sebagai salah satu upaya penegasan posisi Dubai sebagai pusat ekonomi syariah dan sukuk global. Pemerintah Dubai pun membentuk Global Sukuk Centre pada Februari 2013 silam sebagai salah satu dari 46 inisiatif Strategi Ekonomi Syariah Dubai.
Namun, RAM memperkirakan Malaysia masih akan memegang posisi terdepan di pasar sukuk global dengan estimasi pangsa pasar mencapai 70 persen di 2014. Struktur akad yang inovatif dan beragamnya perusahaan yang menerbitkan sukuk membuat Malaysia memimpin pasar sukuk global. Perusahaan-perusahaan Malaysia yang menerbitkan sukuk diantaranya adalah bank, perusahaan energi, konsesi jalan tol, properti, perkebunan dan sejumlah sektor lainnya. Dengan laju pertumbuhan sukuk yang stabil di negara itu tak dipungkiri Malaysia akan tetap memimpin.

