(Ki-Ka) Chief of Employee Benefits, Nur Hasan Kurniawan - President International Aset Management Manulife, Michael Dommermuth - Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro - Director of Business Development Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut E Andanawarih

Persiapan Dana Pensiun Masyarakat Indonesia Masih Salah Hitung

[sc name="adsensepostbottom"]

Masyarakat Indonesia mulai menunjukkan kesadaran pentingnya perencanaan masa pensiun. Sayangnya, banyak dari mereka yang salah dalam membuat perhitungan investasi dana pensiun.

Presiden International Asset Management Manulife, Michael Dommermuth, mengatakan masyarakat di kawasan Asia rata-rata optimis mengenai masa pensiun. Setidaknya 63 persen telah memulai persiapan penyiapan dana pensiun sedari awal. Menurut Dommermuth, masyarakat Indonesia dan Hong Kong bersikap bijak dalam menempatkan dananya. “Orang-orang Asia adalah great savers, mereka menyimpan di banyak aset dan menyisihkan lebih banyak pendapatannya daripada orang Amerika. Yang jadi masalah adalah bukan jumlah aset yang disimpan, tapi dimana menyimpannya?,” imbuh Dommermuth, dalam pemaparan Manulife Investor Sentiment Index di Jakarta, Selasa (11/2).

Ia mengungkapkan di Asia termasuk Indonesia banyak orang yang menyimpan dananya dalam bentuk tunai maupun deposito di bank. Padahal dengan adanya inflasi dan pajak, hal itu memberikan return negatif. Oleh karena itu, Dommermuth menyarankan agar investor bisa masuk ke investasi yang lebih produktif.

(Ki-Ka) Chief of Employee Benefits, Nur Hasan Kurniawan - President International Aset Management Manulife, Michael Dommermuth - Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro - Director of Business Development Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut E Andanawarih
(Ki-Ka) Chief of Employee Benefits, Nur Hasan Kurniawan – President International Aset Management Manulife, Michael Dommermuth – Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro – Director of Business Development Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut E Andanawarih

Chief of Employee Benefits Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Nur Hasan Kurniawan, mengatakan kecenderungan menyimpan dana tunai akan membuat investor merugi, karena nilai tabungan mereka akan tergerus inflasi. ”Yang perlu mereka pertimbangkan bahwa ‘investasi’ seperti ini mungkin tidak memberikan pendapatan yang mereka perlukan di masa pensiun. Untuk itu mereka harus mencari pilihan lain – seperti pendapatan tetap – yang menghasilkan pengembalian yang aman, andal, dan stabil,” kata Nur.

Nur menuturkan masyarakat Indonesia mulai menunjukkan kesadaran akan pentingnya perencanaan masa pensiun, tetapi sayangnya banyak dari mereka salah dalam membuat perhitungan. Dalam Manulife Investor Sentiment Index (MISI), dana tunai sangat menonjol dan terus menjadi aset yang sangat populer, walaupun sentimen terhadap dana tunai melemah (di angka 77 dari angka 85). “Tetap saja skor sentimen ini mencerminkan adanya kecenderungan memilih dana tunai, sesuatu yang sebenarnya melemahkan prospek pensiun investor,” tukas Nur.

Director of Business Development Manulife Aset Manajemen Indonesia, Putut Andanawarih, menambahkan dari survei MISI tersebut dapat diketahui dana tunai lebih disukai oleh masyarakat. Dari dana tunai yang dipegang tersebut 18 persen dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, 15 persen untuk tabungan pendidikan anak, 14 persen untuk masa pensiun, 12 persen biaya medis, 11 persen menambah akumulasi kekayaan, menunggu kesempatan investasi (9 persen), pengeluaran besar selain rumah (9 persen), membeli rumah (7 persen), dan lain-lain (lima persen).

Namun, lanjut Putut, sebenarnya investor perlu mengubah pola pikirnya jika ingin tabungan menjadi sumber pemasukan bagi mereka. ”Banyak investor Indonesia menempatkan dana di tabungan, dan ternyata itu mengurangi nilai kekayaan investor. Jadi dianjurkan agar mengalokasikan sebagian dari dana ke aset yang punya tingkat pengembalian lebih tinggi dari inflasi,” ujar Putut.

Ia menuturkan dengan tingginya angka inflasi di Indonesia, dalam jangka panjang, dana tunai yang disimpan di tabungan nilainya akan semakin turun. “Dengan angka inflasi 8%, setiap Rp 1 juta uang tunai yang dipegang, daya beli uang Anda akan berkurang Rp 7 ribu setiap bulannya,” jelas Putut. Oleh karena itu, menurutnya, masyarakat Indonesia harus mulai mempertimbangkan untuk mengurangi simpanan dana tunai dan melakukan investasi secara lebih efektif pada berbagai jenis pilihan investasi yang kini telah tersedia.