Ekonomi Berbasis Pengetahuan
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa saat membuka forum ini menyampaikan, fenomena ekonomi global kini bergerak kian cepat dan semakin terintegrasi. Semakin dalamnya intervensi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan ekonomi membuat ekonomi berbasis nilai tambah akan menjadi ciri dari keunggulan dan daya saing sebuah bangsa.
Untuk mendukung terciptanya ekonomi berbasis nilai tambah ini sumber daya manusia menjadi kunci utama. Indonesia diuntungkan dengan membludaknya jumlah penduduk usia produktif, namun belum tentu benar-benar produktif. “Dengan kata lain SDM berkualitas menjadi tantangan kita bersama,” kata Hatta.
Hatta mengatakan ketika terjadi integrasi dunia global bukan lagi mengenai hambatan tarif, namun yang dikedepankan adalah menunjukkan daya saing. Menurutnya, negara yang tidak mampu mengembangkan basis inovasi maka tidak akan mampu meningkatkan daya saing. Oleh karena itu, SDM menjadi penting karena di sanalah terletak masa depan bangsa.
“Kita perlu SDM yang berpikir dan berzikir, yang berpikir atau berzikir saja tidak cukup untuk menghadapi tantangan. Orang yang berpikir dan berzikir selalu melihat peluang dalam keadaan apapun dan harus melahirkan sesuatu untuk menjawab tantangan,” jelas Hatta.
Ia menuturkan kepatuhan terhadap prinsip syariah telah mengangkat daya saing keuangan syariah Indonesia dan membuat Indonesia menempati peringkat lima dalam Global Islamic Financial Report. Pengembangan industri keuangan syariah Indonesia yang bersifat market driven dan bottom up dalam memenuhi kebutuhan masyarakat ini pun turut mendorong.
“Fenomena bubble tidak akan terjadi dalam konsep ekonomi Islam karena terjaganya transparansi dan akuntabilitas. Dalam syariat Islam ini konsep universal yang penuh dengan keadilan,” ujar Hatta.
Indonesia Pusat Keuangan Syariah Dunia Ia menambahkan pertemuan G20 selalu menekankan pada menciptakan pembangunan yang kuat, seimbang dan berkelanjutan. Krisis ekonomi yang berulang menunjukkan keserakahan dan tidak mengedepankan asas keadilan yang bisa memunculkan eksploitasi berlebihan. Padahal, ajaran Islam menekankan bahwa kepemilikan harta tidak boleh beredar di golongan tertentu.
“Konsep yang menurut saya Islam mempersilakan orang menjadi kaya sepanjang memahami dalam harta tersebut ada kewajiban agar terwujud keadilan sosial dan ekonomi di antara umat manusia,” papar Hatta.
Menurut Hatta, revitalisasi konsep ekonomi dan keuangan syariah di pentas nasional sedang berlangsung, hanya kecepatannya belum tinggi. Industri keuangan syariah memang terus berkembang, tidak cuma bank syariah tetapi juga lembaga keuangan non bank. Produk keuangan syariah juga semakin beragam dengan kemunculan reksadana syariah, sukuk dan saham syariah.
“Apa yang digambarkan ini menunjukkan tren yang terus meningkat bahkan Indonesia berpotensi sebagai pusat keuangan syariah dunia. Dan saya yakin bahwa ekonomi adalah solusi dalam merespon ketidakadilan dan rapuhnya perekonomian,” cetus Hatta.
Dari antara paper-paper yang masuk, terpilih 12 finalis yang dipresentasikan dalam FREKS 2013 kemarin. Dari antara 12 paper finalis itu, Sharing memilihkan beberapa yang berkaitan erat dengan topik laporan utama kali ini, yaitu Outlook keuangan dan perbankan syariah Indonesia. yogie@mysharing.co
“Konsep yang menurut saya Islam mempersilakan orang menjadi kaya sepanjang memahami dalam harta tersebut ada kewajiban agar terwujud keadilan sosial dan ekonomi di antara umat manusia,” Menko Perekonomian, Hatta Rajasa


