Untuk tantangan industri perbankan syariah di 2014, apa yang paling mendasar?
Tantangan 2014 masih tetap sama, yaitu persoalan SDM di industri perbankan syariah kita. Seperti di kami sendiri, dengan jumlah kantor kami sekarang yang semakin banyak itu, tidak hanya dari kuantitas, tapi kualitas tentu harus kami perkuat terus. Kami bicara masalah pelatihan/training, pemahaman produk, itu semua membutuhkan resources, baik berupa dana, juga untuk persiapan training, kompetensinya. Challenge-nya di sana.
Lalu bagaimana prospek industri perbankan syariah nasional secara internasional?
Justru itu, mereka di luar (Negara asing) melihat protensi di Indonesia ini luar biasa. Makanya kita juga harus mempersiapkan diri. Kami melihat bank-bank Malaysia sudah banyak mulai mengincar potensi yang ada di Indonesia. Karena pangsa pasar Indonesia besar. Kemudian pangsa pasar syariahnya juga masih sangat terbuka lebar. Jadi dengan adanya Asian Integration ini, justru kami harus bersiap diri.
Bagi Bank Muamalat sendiri, salah satu keuntungan kami punya jaringan di Kuala Lumpur adalah kita bisa banyak mengambil referensi dari mereka, terkait dengan best practice, terkait dengan produk. Dan itu kita gunakan, dan kami kembangkan lagi di sini. Bagaimanapun, kami harus tahu perkembangan apa yang ada di luar, dan kami ajak mereka bersinergi.
Kami sendiri sudah mempunyai jaringan 500 kantor yang ada di seluruh propinsi. Nah, kalau ada bank asing mau masuk ke sini (Indonesia), apakah mereka mau invest yang sedemikian besar hanya untuk membuka jaringan? Yang ada mungkin, mereka bisa berkolaborasi dengan kami. Bentuk kolaborasinya seperti bagaimana? Itu kita pikirkan. Jadi, menurut saya, infrastruktur yang sudah kami bangun di seluruh Indonesia itu, adalah nilai tambah bagi kami. Jadi kalaupun ada pihak asing mau masuk, mungkin mereka bisa kerjasama, distribusi lewat jaringan kantor kami. Jadi ketertarikan asing hendak masuk ke kita, tidak harus disikapi dengan negatif, justeru bisa kolaborasi.


