Telling Islam to The World: Gerakan Dakwah Islam Global rencananya akan merambah ke seluruh benua di dunia dan dimulai dari USA Project, yaitu mendirikan Muallaf Center di New York City.

Latar belakang dari gerakan tersebut tak terlepas dari sejumlah ujian berat yang dihadapi umat muslim belakangan ini. Tak hanya peristiwa penyerangan menara kembar World Trade Center (WTC) di New York, 11 September 2001 silam yang telah meninggalkan hikmah yang besar, khususnya bagi Islam. Beberapa waktu lalu juga terjadi aksi teror bom di Paris, Prancis dan penembakan massal di San Bernardino, California, Amerika Serikat.
Namun, insiden itu juga menjadi sebuah titik balik perkembangan Islam di Amerika Serikat. Tercatat pemeluk Islam (mualaf) di AS secara signifikan tumbuh empat kali lipat pascainsiden 9/11. Fakta tersebut disampaikan oleh Imam Besar Islamic Center New York Ustadz Shamsi Ali. Baca: Pasca 9/11 Muslim Amerika Lebih Inklusif
Ia mengatakan bahwa beberapa hari setelah peristiwa 9/11 itu, Al Quran sulit untuk ditemukan di berbagai toko buku di kota New York dan kota-kota lainnya, bahkan di toko buku online seperti Amazon, kitab suci umat muslim ini ludes terjual. Pesatnya orang AS yang masuk Islam menjadi ladang dakwah untuk memperkenalkan Islam rahmatan lil’alamin yang menjunjung tinggi toleransi dan nilai kemanusiaan.
“Kenyataannya sejak 9/11 Islam menjadi agama yang diminati. Masyarakat Amerika itu terbuka dan punya minat pengetahuan sangat tinggi. Walau Islam diproyeksikan negatif, tapi masyarakat Amerika kemudian mendapati dan menemukan Islam sesungguhnya yang rahmatan lil alamin. Estimasinya 20 ribu orang di Amerika masuk Islam per tahun,” jelasnya.
Untuk itulah, salah satu bagian dari Telling Islam to the World adalah dengan mendirikan Mualaf Center di New York, Amerika Serikat. Ini sesuai dengan fokus utama gerakan tersebut di tahun pertamanya yang akan menyasar negara-negara di wilayah Amerika dan Eropa. Baca: Telling Islam to the World, Kampanye Islam Bagi Seluruh Semesta
Pendirian Mualaf Center tersebut pun mendapat dukungan pendanaan dari El Hijab sebagai perwujudan tanggung jawab sosial perusahaan. Direksi El Hijab Henda Roshenda, memahami beratnya menjadi mualaf di negara yang phobia terhadap Islam disertai munculnya beragam isu negatif tentang Islam yang dilontarkan saat kampanye seorang kandidat calon presiden.
“Menjadi mualaf di negara minoritas tentu berat, perlu edukasi dan pendampingan terus menerus agar tidak kembali ke habit-nya. Oleh karena itu, kami ingin berkontribusi positif dalam hal ini membuat Mualaf Center. Semoga bisa terwujud mualaf center yang menjadi tonggak sejarah pula bagi Nusantara Foundation,” ujarnya.
Ia mengungkapkan dana yang terkumpul untuk pendirian Mualaf Center di New York mencapai Rp 1 miliar. “Kami mengumpulkan dana dari para mitra bisnis mulai agen, distributor, dan dari El Hijab sendiri. Alhamdulillah terkumpul dana Rp 1 miliar yang seluruhnya akan digunakan untuk membangun Mualaf Center,” pungkas Henda.

