Ruang Lingkup dan Objek Kajian Fikih

[sc name="adsensepostbottom"]

usul fikih dan ekonomi islam

Secara garis besar, fikih memuat dua hal pokok yang merupakan ibadah kepada Allah swt. Pertama, tentang apa yang harus dilakukan oleh seorang hamba Allah swt. dalam hubungannya dengan Allah swt. sang penciptanya, atau disebut dengan ibadah secara langsung (‘ibadah mahdah), sehingga sering disebut dengan fikih ibadah. Kedua, tentang apa yang yang harus dilakukan oleh seorang hamba dalam hubungannya dengan sesama manusia dan lingkungannya, atau disebut ibadah tidak langsung (‘ibadah ijtima‘iyyah), sehingga sering disebut fikih muamalah.[1]
[su_box title=” Seri ‘Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam’ oleh Muhammad Zaki, Ketua Prodi Ekonomi Syariah STAI Yasni Muara Bungo.Ini adalah bagian 3″ style=”soft” box_color=”#cc3333″ radius=”5″]

  1. Usul Fikih dan Pengembangan Ekonomi Islam
  2. Pengertian Fikih Secara Bahasa dan Istilah
  3. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Fikih 3
  4. Usul Fikih: Pengertian Secara Bahasa
  5. Ruang Lingkup dan Objek Kajian Usul Fikih
  6. al-Qawa‘id al-Fiqhiyyah
  7. Kedudukan Fikih, Usul Fikih dan al-Qawa’id al-Fiqhiyyah dalam Ekonomi Syariah

[/su_box]
Dalam hal ibadah, bentuk dan cara pelaksanaannya sepenuhnya dilakukan sesuai dengan petunjuk dan kehendak Allah swt. serta penjelasan yang diberikan oleh Nabi Muhammad saw.. Untuk maksud itu, petunjuk Allah swt. serta penjelasan yang diberikan oleh Nabi saw. telah jelas, rinci, dan sempurna, sehingga tidak boleh ditambah, dikurangi dan/atau dirubah.

Sedangkan dalam hal muamalah, petunjuk Allah swt. dan penjelasan Nabi Muhammad saw. hanya bersifat umum dan dalam bentuk garis besar. Sejauh yang tidak dijelaskan oleh Allah swt. dan Nabi saw. dapat dilakukan oleh umat dan berlaku padanya kreasi umat untuk mengatur apa-apa yang dibutuhkan dan dianggap baik oleh umat berdasarkan prinsip maslahah. Muamalah dalam artian umum adalah pergaulan atau hubungan antara sesama manusia ini. Oleh karena itu, fikih muamalah terbagi dalam beberapa cabang:[2]

  1. Hubungan antara sesama manusia berkaitan dengan harta dan kebutuhannya kepada kepemilikan harta itu. Aturan dalam bentuk ini disebut fikih muamalah dalam artian khusus, seperti jual beli, sewa menyewa, dan lain-lain.
  2. Hubungan antara sesama manusia berkaitan dengan penyaluran nafsu syahwat dalam mendapatkan keturunan yang sah yang disebut dengan fikih munakahat.
  3. Hubungan antara sesama manusia berkaitan dengan pemilikan harta yang timbul sebagai akobat suatu kematian dalam keluarga yang disebut dengan fikih mawaris|.
  4. Hubungan antara sesama manusia berkaitan dengan terjadinya kejahatan dan sanksi untuk mencegah terjadinya kejahatan tersebut yang dikenal dengan fikih jinayat.
  5. Hubungan antara sesama manusia berkaitan dengan usaha manusia mendapatkan hak dan keadilan di pengadilan yang disebut fikih murafa‘at atau qada’.
  6. Hubungan antara sesama manusia dan antara manusia sebagai kelompok dengan pemimpinnya dalam kehidupan bernegara dan berbangsa yang disebut fikih dusturiyyah.
  7. Hubungan antara sesama manusia dalam suatu Negara dengan Negara lain dalam masa damai maupun perang yang disebut fikih dauliyah.

al-Fikri, dalam kitab al-Mu‘amalah Al-Maddiyyah wa al-Adabiyyah, sebagaimana dikutip oleh Rachmat Syafe’i, membagi fikih muamalah menjadi dua bagian:[3]

Pertama, al-Mu‘amalah al-Maddiyyah, yaitu muamalah yang mengkaji segi objeknya, yaitu benda. Sebagian ulama berpendapat bahwa muamalah ini bersifat kebendaan, yakni benda halal, haram, dan syubhat untuk dimiliki, diperjualbelikan atau diusahakan, benda yang menimbulkan kemudharatan dan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia, dan lain-lain. Ruang lingkup mu‘amalah maddiyyah adalah:

[su_list icon=”icon: check-circle” icon_color=”#be057d”]Jual beli (al-bai‘) Gadai (rahn) Jaminan dan tanggungan (kafalah dan daman) Pemindahan hutang (hiwalah) Jatuh bangkit (tafjis) Batas bertindak (al-hajru) Perseroan atau perkongsian (asy-syirkah) Perseroan harta dan tenaga (al-mudarabah) Sewa menyewa tanah (al-musaqat) Upah Gugatan (syuf‘ah) Sayembara (ji‘alah) Pembagian bersama (al-qismah) Pemberian (al-hibah) Pembebasan (al-ibra’), damai (sulhu) Beberapa masalah kontemporer (riba, asuransi, kredit, dan lain-lain)[/su_list]

Kedua, al-Mu‘amalah al-adabiyyah, yaitu muamalah yang ditinjau dari segi cara tukar menukar benda, yang sumbernya dari pancaindera manusia, sedangkan unsur-unsur penegaknya adalah hak dan kewajiban, seperti jujur, hasud, iri, dendam, dan lain-lain. Ruang lingkup al-mu‘amalah al-adabiyyah adalah ijab dan qabul, saling meridhai, tidak ada keterpaksaan dari salah satu pihak, hak dan kewajiban, kejujuran pedagang, penipuan, pemalsuan, penimbunan dan segala sesuatu yang bersumber dari indera manusia yang ada kaitannya dengan peredaran harta.

[1] Amir Syarifuddin, Garis…, op.cit, hlm. 12-13.
[2] Ibid, hlm. 15.
[3] Rachmat Syafe’i, op.cit, hlm. 18.