Indonesia dengan potensi alam yang luas bisa menerapkan halal lifestyle di berbagai industri.
Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar menyebutkan, pariwisata bisa menyamai sektor-sektor lain, mulai hulu sampai hilir. “Sektor Pariwisata itu mempunyai multiplier effects. Belum lagi pariwisata memberikan perekonomian sebagai tujuan utama,” kata Sapta kepada MySharing, di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dari data World Islamic Economic Forum (WIFE) 2015 di Dubai disebutkan, ada sekitar empat ratus juta international Muslim travelers, di luar haji. Dengan demikian, tegas Sapta, potensi wisata Muslim ini jelas terlihat besar sekali efeknya terhadap perekonomian.
“Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dunia, Indonesia tidak seharusnya takut untuk menerapkan atau menyatakan halal lifestyle. Dengan anugerah Allah SWT, berupa potensi kekayaan alamnya, Indonesia bisa berperan sebagai leader dan tidak sekedar menjadi follower,” tegas Sapta.
- Bank Muamalat Sukses Raih Dua Penghargaan di Ajang TOP GRC Awards 2026
- BCA Syariah dan Istiqlal Halal Center Serahkan Sertifikat Halal untuk 49 UMKM
- CIMB Niaga Raih Tiga Penghargaan Bergengsi di Asian Banking & Finance Awards 2026
- Bank Mega Syariah Rayakan Harpelnas 2026 Berikan Layanan Medical Check-Up Gratis untuk Nasabah
Menurut Sapta, Indonesia dengan potensi alam dan bahan mentahnya yang luas bisa menerapkan halal lifestyle di berbagai industri lainnya, seperti fashion, farmasi, kosmetika, dan lainnya.
Dengan tumbuhnya ekonomi halal di negara-negara non Muslim, seperti Selandia Baru dan Brasil, Indonesia seharusnya terpicu untuk serius menerapkan halal lifestyle. “Lihat saja di Brazil, peternakan sapi di sana, daging yang dipasarkan diolah sesuai dengan standar halal . Peternakan ayam di Selandia Baru demikian juga. Mereka pasar ekspornya negara-negara OKI, tak terkecuali Indonesia,” pungkas Ketua Kelompok Kerja Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini.

