Jody Brotosuseno, pemilik Waroeng Steak and Shake berhijrah dengan penerapkan program spiritual company. Program ini tak cuma berdampak baik pada perusahaan, kehidupan karyawannya pun menjadi lebih syar’i.

Jody bersyukur bisnisnya sudah berjalan 15 tahun. Ia pun berkisah, Waroeng Steak and Shake dirintis dengan modal menjual sepeda motor pemberian orangtuanya. Hasil jual motor itu, ia pakai untuk membeli peralatan usaha, sewa tempat dan sisanya membeli motor tua.
Waroeng Steak and Shake dibuka pada 4 September 2000 di Jalan Cendrawasih Demangan Yogyakarta. Dipilih nama Waroeng diyakini sebagai brand usaha kulinernya untuk memberi kesan murah kepada konsumen. “Steak itu kan indentik mahal, nama waroeng memberi kesan murah apalagi pasarnya anak muda,” kata Judy, kepada MySharing, di Jakarta, Rabu (16/12).
Dari pengakuan Jody, di tahun awal hingga ketujuh tahun bisnisnya berjalan, ia dan istrinya Siti Haryani hanya fokus mengejar materi. “Praktis, saya dan istri hanya fokus mengejar uang, pengen beli rumah, mobil dan lainnya,” kata Jody kepada MySharing.
Namun setelah mengikuti training di ESQ, mereka menemukan jawaban kegelisahan hati bahwa mengejar materi itu hanya kebahagiaan sesaat. “Training di ESQ menggerakan hati kami untuk hijrah menjalani kehidupan yang lebih baik. Tahun 2007, kami putuskan hijrah, karena sebagai pengusaha, kami sadar punya tanggungjawab besar terhadap karyawan pasti kelak akan ditanya gimana meminite mereka,” kata Jody.
Tahun 2007, Waroeng Steak and Stake sudah memiliki 800 karyawan. Menurut Jody, mengelola 800 karyawan itu bukanlah hal mudah. Ketika mengikuti training ESQ, ia merasakan dampak syariah yang dirasakan dirinya. Ia merasa berkewajiban untuk ikut memperdayakan karyawannya menjadi lebih baik, khususnya dalam beribadah.
Dalam perjalanan hijrah, Jody menerapkan sistem khusus hari Jumat, Waroeng buka pukul 13.00, sedangkan hari biasa pukul 12.00. Tujuannya tiada lain mengajak karyawan pria shalat Jumat. Namun, kata Jody, dengan berbagai alasan mereka kabur tidak shalat Jumat di masjid.
“Itu saya lihat sendiri. Saya dan istri berpikir ini nggak benar, harus diubah sistem di perusahaan dengan menerapkan program Spiritual Company. Karena, kami pengen sesuai visi perusahaan lebih baik sesuai syariah,” papar Jody.
Menurutnya, Spiritual Company adalah program dakwah dan pendidikan Islam, yang tidak bisa sekali jadi, tapi harus berlanjut terus sampai akhirnya mereka dengan kesadarannya sendiri menjalankan kewajibannya sebagai Muslim.
Jody mengaku senang bisa berdakwah kepada karyawannya. Menurutnya, dakwah di perusahaan sendiri lebih mudah dibandingkan ustand berdakwah. Jody pun mencontohkan, misalkan ustand mengajak jamaahnya shalat di masjid. Ajakan itu belum tentu semua jamaah menjalankannya. Tapi, kalau seorang pengusaha berkata kepada karyawannya.
“Mulai besok shalat lima waktunya di masjid. Yang nggak shalat di masjid, akan dikasih SP. Saya pikir mereka akan jalani meski awalnya terpaksa. Tapi pelan-pelan kita kasih pendidikan dan kajian, akhirnya mereka sadar sendiri menjalankan shalat sudah menyatu dalam dirinya. Mereka juga shalat Jumat dan shalat duha serta ngaji setiap hari sebelum mulai kerja. Ini spirit kaidah syariah,” papar Jody.
Hijrah total itu tidak hanya diranah shalat dan zakat, tapi juga diranah pengelolaan keuangan. Jody menegaskan, bahwa program Spiritul Company akan terus diterapkan dalam pemberdayaan karyawanya. Karena tak dipungkiri bahwa program ini berdampak baik pada perkembangan perusahaan.
Jody pun menjelaskan, di satu outlet itu ada 15-20 karyawan. Mereka semua tidur di outlet, tanpa ada pengawasan. Di outlet itu ada gudang, semua barang dan bahan-bahan produk steak ada di sana. ”Jadi kalau mereka, pagi, malam atau siang mau bikin susu, steak ayam atau daging, kami tidak melarang. Bisa bayangkan kerugiannya berapa?Tapi karena hijrah, Allah SWT memberikan rejeki berlimpah, perusahaan kami berkembang pesat,” tukasnya.
Sebelum menerapkan program spiritual company, solusinya memasang CCTV. Namun demikian, kata Jody, kalau perusahaan memasang CCTV di setiap titik malah melelahkan, harus mengawasi belum lagi biayanya besar sekali. Yang paling pas, menurutnya, karyawan harus sadar sendiri, makanya program spiritual company ini terus diterapkan. Terbukti, banyak alat dan bahan-bahan digudang, karyawan tidak jail malah menjaganya. “Kalau soal karyawan bikin steak atau susu, itu berkah perusahaan memberi kemaslahatan,” ujarnya.
Kini, selain sibuk mengurus usahanya, Jody pun aktif mendirikan Rumah Tahfizh dan mengasuh ratusan anak untuk menghafal Al-Qur’ran.

