Tetapkan Prioritas dan Tujuan Keuangan Sesuai Syariah

[sc name="adsensepostbottom"]

Kepemilikan dalam Islam mengakui hak kekayaan milik individu. Namun dalam pengelolaannya Islam mengajarkan agar kekayaan tersebut tidak berputar di satu kelompok saja. Distribusi kekayaan menjadi salah satu pembeda pengelolaan keuangan Islami dengan yang lainnya.

QM Financial
Independent Financial Planner Quantum Magna (QM) Financial, Mohammad B Teguh/ Foto: Dok Pribadi

Independent Financial Planner Quantum Magna (QM) Financial, Mohammad B Teguh, mengatakan setidaknya ada empat perbedaan antara pengelolaan kekayaan secara Islami dan konvensional. Pertama, dari pengaturan cashflow keuangan dalam membelanjakan uang bulanan. Kedua, menetapkan prioritas tujuan. Ketiga, pemilihan produk keuangan berbasis prinsip syariah. Keempat, adanya hukum waris Islam.

Teguh menuturkan dari sisi pengelolaan keuangan Islami, membayar utang, jika ada, menjadi prioritas utama. Baru kemudian zakat, investasi, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, dan terakhir gaya hidup. Jika seseorang tidak memiliki utang tentu pembayaran zakat menjadi yang utama. “Kalau di konvensional tidak ada urutan bayar utang dulu atau bayar utang harus ditepati, lalu untuk dana sosial juga kalau mau. Sementara di Islamic financial planning tetap yang diajarkan bayar utang dulu baru zakat. Jangan sampai konsumtif justru kewajiban bayar utang tidak dibayarkan. Di dalam Islam ajarannya prioritas bayar utang daripada untuk lifestyle,” kata Teguh. Begitu pula dalam menetapkan prioritas, misalnya antara haji dan membeli mobil atau antara pendidikan anak-anak dan berlibur. Tentu yang harus didulukan adalah berhaji dan memberikan pendidikan terbaik bagi si buah hati.

Teguh menuturkan konsep Islamic financial planning adalah membuat perencanaan keuangan klien demi mencapai tujuan keuangannya dengan membuat manajemen keuangan yang teratur. “Misalkan untuk mencapai tujuan pendidikan maka harus investasi sekian rupiah di produk A, B, C, terus agar dana pensiun mencapai sekian rupiah maka harus investasi sekian di produk B,” papar Teguh.

Oleh karena itu, sebelum membuat perencanaan keuangan yang tertata, seseorang harus membuat financial check up untuk melihat kondisi keuangannya. Setelah itu baru membuat perencanaan untuk mencapai tujuan yang ingin diraih. Perencanaan keuangan yang dipakai pun tetap harus sejalan dengan prinsip syariah.

Dalam Islamic financial planning produk keuangan yang digunakan tentunya adalah yang berbasis syariah, seperti tabungan dan deposito di bank syariah, asuransi syariah, sukuk, saham syariah, dan reksadana syariah. Dari sisi produk investasi, sebagian besar memilih reksadana syariah, emas, sukuk, obligasi syariah. “Masing-masing punya risiko dan itu kita jelaskan ke klien, jangan sampai klien misleading bahwa kami menjamin (produk investasi) dan pasti performa bagus,” kata Teguh.

Apa saja indikator keuangan yang sehat? Hal yang pertama dilihat adalah dari rasio likuiditas yaitu berapa lama seseorang bisa bertahan jika terjadi sesuatu hal tidak terduga. Kedua, sisi rasio utang dibanding pendapatan. Teguh mengungkapkan keuangan yang sehat adalah jika utangnya 30 persen dari pendapatan, tetapi jika cicilan utangnya sudah sampai 40-50 persen dari pendapatan sudah dinilai tidak sehat. Selain itu, dapat dilihat pula total aset dibanding utang, jangan sampai utang lebih besar dari total aset. Indikator keuangan yang sehat juga bisa dilihat dari rasio menabung setiap bulan berapa persen dari penghasilan. “Kadang-kadang secara pendapatan besar tapi pengeluaran juga besar jadi percuma saja rasio keuangannya akan jelek. Keuangan sehat atau tidak bukan dari penghasilannya besar tapi rasio balance antara penghasilan, pengeluaran, aset dan utang,” cetus Teguh.