Wisata halal tak hanya harus semata memenuhi syariat Islam. Namun wisata halal juga harus luwes dan friendly dalam memenuhi kebutuhan Umat Muslim.
Demikian hal tersebut diungkapkan Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintahan Kementerian Pariwisata Republik Indonesia – Tazbir, S.H, M.Hum, dalam acara Seminar Nasional dengan tema “Indonesia Menuju Wisata Halal 2017” yang diselenggarakan oleh BEM KM Unand pada Senin (30/01/2017) di Convention Hall Kampus Unand Limau Manis, Padang, Sumatra Barat.
“Halal tidak hanya berkaitan dengan syariat Islam tetapi juga dapat diartikan dengan pelayanan yang friendly, akrab dengan kebutuhan muslim. Dengan begitu halal itu adalah bersih, ramah, sopan dan sehat,” ujar Tazbir saat menyampaikan pemikirannya dalam seminar tersebut.
Tazbir lalu mengungkapkan, wisata halal adalah konsep pariwisata dengan nilai – nilai keIslaman. Dengan demikian wisata halal harus memenuhi nilai-nilai yang diatur dalam syariah Islam. Namun demikian, pemenuhan nilai-nilai Islam tersebut juga harus mampu ditransformasikan secara luwes didalam aplikasinya, sehingga akan membuat para wisatawan merasa nyaman, dan hal tersebut justru bisa menjadi nilai tambah tersendiri bagi industri wisata halal di tanah air.
- CIMB Niaga Business Summit 2026 Usung Vision Made Possible Dukung Perusahaan Indonesia Tumbuh Berkelanjutan
- Prudential Syariah Luncurkan Asuransi Jiwa PRUCare 360 Syariah
- Pembiayaan Emas Bank Muamalat Melonjak Signifikan, Tembus Rp1,9 Triliun
- BSI Perkuat Ekosistem Wakaf Produktif, Dorong Potensi Rp180 Triliun Jadi Kekuatan Ekonomi Umat
Tazbir lalu mengungkapkan, bahwa industri pariwisata halal ke depannya dapat menjadi sektor andalan nasional bangsa kita.
“Dengan begitu wisata halal diharapkan sebagai penghasil devisa utama bagi Indonesia,” demikian jelas Tazbir.

