OJK Dorong Akademisi Aktif Sumbang Riset Keuangan Syariah

Akses Keuangan Masyarakat Rendah, OJK Kenalkan Laku Pandai

Pemanfaatan jasa keuangan di dalam negeri masih belum optimal. Berdasar Survei Nasional Literasi Keuangan yang dilaksanakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2013, tingkat pemanfaatan perbankan masih 57,3 persen, dan sektor lainnya masih lebih rendah lagi. Untuk meningkatkan akses keuangan masyarakat itulah OJK pun memperkenalkan Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai).

OJK Dorong Akademisi Aktif Sumbang Riset Keuangan SyariahApa itu? Laku Pandai adalah kegiatan menyediakan layanan perbankan dan/atau layanan keuangan lainnya yang dilakukan tidak melalui jaringan kantor, namun melalui kerjasama dengan pihak lain dan perlu didukung dengan penggunaan sarana teknologi informasi.

Ketua OJK, Muliaman D Hadad, menuturkan melalui Laku Pandai ini diharapkan lembaga keuangan bisa melakukan penetrasi lebih dalam ke masyarakat. “Kami berharap bank bisa ambil alih rentenir, karena seharusnya akses cukup mudah karena agen Laku Pandai bisa ditemui di pinggir jalan,” katanya di Gedung OJK, Rabu (18/11). Agen Laku Pandai ini dapat berupa perorangan atau badan hukum yang akan bekerjasama dengan bank.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Nelson Tampubolon, mengatakan Laku Pandai merupakan wujud komitmen untuk menyediakan akses keuangan bagi masyarakat yang belum menggunakan dan mendapatkan layanan perbankan dan keuangan lainnya. “Melalui layanan ini maka akan tersedia produk keuangan yang lebih mudah dijangkau, sederhana, mudah dipahami dan sesuai kebutuhan masyarakat dalam mendukung keuangan inklusif,” kata Nelson.

Ada tiga produk spesifik yang dapat disediakan oleh lembaga jasa keuangan yang menyelenggarakan Laku Pandai, yaitu tabungan, pembiayaan mikro dan asuransi mikro. Sementara, bisa pula berupa produk keuangan lainnya, namun harus berdasar persetujuan OJK. Baca Juga: OJK Akan Perluas Agen Penjual Reksadana

Nelson menjelaskan untuk produk tabungan memiliki karakteristik tidak punya batas minimum untuk saldo maupun transaksi, namun punya batas maksimum saldo Rp 20 juta dan transaksi setiap bulan maksimal Rp 5 juta. “Kalau lebih dari itu, maka bisa pindah ke tabungan biasa yang tersedia di bank,” jelas Nelson. Selain itu, juga tidak dikenakan biaya administrasi bulanan, biaya pembukaan dan penutupan rekening, dan biaya transfer.

Sementara, untuk produk pembiayaan mikro diberikan pada calon debitur yang sudah menjadi nasabah paling singkat enam bulan atau kurang dari enam bulan berdasar pertimbangan tertentu dari bank. “Jadi kalau bank sudah mengenal baik nasabah, maka nasabah bisa memperoleh pembiayaan walaupun belum enam bulan jadi nasabah,” ujar Nelson.

Ia menambahkan tujuan pembiayaan mikro pun diutamakan untuk membiayai usaha produktif atau kegiatan lainnya untuk keuangan inklusif, seperti untuk pendidikan atau pemakaman. “Permohonan kredit pembiayaan ini boleh dilakukan melalui agen, tapi persetujuannya tetap dari bank,” kata Nelson. Sementara, produk asuransi mikro ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Baca: OJK Dorong Percepatan Sistem Keuangan Lebih Inklusif

More Stories
Ijtima ulama 4
Ijtima Ulama 4 Tidak Ada Kaitannya dengan Rekonsiliasi