Ada Sikap Intoleransi di Tolikara

[sc name="adsensepostbottom"]

MUI menilai penyerangan Tolikara ditumpangi pihak asing yang menebarkan sikap intoleransi untuk menciptakan suasana yang tidak kondusif.

tolikaraKetua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI Muhyiddin Junaidi mengatakan, Israel dengan antek-anteknya, kata Muhyiddin, kenapa memerintahkan warga Tolikara untuk mengecat rumah dan kios dengan gambar bendera Israel. Bahkan pemerintah kepala daerah memberikan peringatan bagi yang tidak mengecat rumahnya akan dikenakan didenda sebesar Rp 500.000.

”Pemerintahan apa itu, padahal Indonesia tidak ada hubungan diplomatik dengan Israel, kok bisa masuk dengan mudah,” kata Muhyiddin kepada MySharing, saat ditemui di kantor MUI Pusat Jakarta, Selasa (30/7). Baca: MUI Menilai Tolikara Belum Kondusif

Sementara, kata Muhyiddin, ketika MUI mengundang menteri luar negeri Kosovo, itu tidak bisa masuk ke Indonesia. ”Karena Indonesia belum mengakui kedaulatan Kosovo. Kenapa giliran Israel boleh Kosovo tidak? Ini ada ketidakadilan?,” tukasnya.

Pertanyaan itu, kata Muhyiddin dilontarkan MUI kepada para petinggi negara yang hadir rapat membahas kasus Tolikara di MUI Pusat, Jakarta pada Selasa (28/7) lalu. Namun demikian, lanjutnya, mereka para pejabat yang terdiri dari Asops Kapolri, Deputi I Menkopolhukam, Deputi II BNI, dan Direktur Perlindungan Kementerian Sosial, tidak bisa menjawab. Karena  Kementerian Luar Negeri yang lebih tahu informasi dan berhak menjawabnya.

MUI, kata Muhyiddin, sangat prihatin dengan penyerangan terhadap umat Muslim yang sedang melaksanakan shalat Idul Fitri 1436 Hijriyah di Tolikara Papua, pada Jumat 17 Juli 2015 lalu. ”Istilahnya tirani minoritas atas mayoritas, bukan tirani mayoritas atas minirotas. Mereka jumlahnya sedikit tapi menentukan. Ya kita yang ditentukan nasibnya oleh mereka, gimana itu,” ujar Muhyiddin.

Menurutnya, dengan adanya kejadian di Tolikara, masih ada sikap intoleransi yang seharusnya menjadi musuh bersama di Indonesia. Sehingga harus ada menuntasan dengan penegakan hukum seadil-adilnya. Para tokoh agama pun harus mengembangkan kesadaran akan kemajemukan yang ada di Indonesia kepada umat.

Muhyiddin berharap, pihak asing yang bermain dalam kerusuhan Tolikara, Papua, tujuannya ingin agar umat beragama tidak bersatu, rukun dan damai. ”Mereka tidak mau Indonesia yang majemuk dan besar ini hidup rukun dan damai,” katanya. Untuk itulah, Muhyiddin berharap Polri bersungguh-sungguh menegakkan hukum terhadap kasus Tolikara ini tanpa tebang pilih. Baca: MUI:Kerukunan Beragama Menjadi Ancaman Bagi Negara.