Kementerian Keuangan

Pemerintah Beri Sinyal Penurunan Target Pembiayaan Tahun Depan

[sc name="adsensepostbottom"]

Pada tahun depan pemerintah menargetkan pembiayaan melalui surat berharga negara mencapai Rp 431 triliun (gross). Namun setelah adanya penyesuaian harga BBM pemerintah pun memberi sinyal potensi penurunan target pembiayaan dari surat berharga negara.

Kementerian Keuangan
Kementerian Keuangan

Menteri Keuangan RI, Bambang P Brodjonegoro, mengatakan kebijakan pembiayaan pemerintah disusun untuk memberikan hasil yang optimal dan dengan risiko yang terjaga. Untuk rencana pembiayaan tahun 2015 pun sementara ini masih menggunakan target APBN 2015.

“Ke depan, dengan telah adanya penyesuaian harga BBM terdapat potensi penurunan target defisit APBN-P 2015 yang selanjutnya berpengaruh pada penurunan target pembiayaan dari surat berharga negara,” kata Bambang dalam Investor Gathering bertema Tantangan dan Strategi Pembiayaan Tahun 2015 di Gedung Kementerian Keuangan, Rabu (3/12). Baca Juga: Dinno Indiano: Kebijakan BBM Berdampak Positif Pembangunan Bangsa

Ia menambahkan salah satu isu yang menjadi perhatian pemerintah di tahun 2015 dari sisi pembiayaan adalah terkait risiko peningkatan suku bunga The Fed. “Kami memahami bahwa peningkatan pada suku bunga acuan The Fed akan dapat mempengaruhi tingkat suku bunga global dan pada akhirnya dapat meningkatkan cost of fund pemerintah. Risiko ini tentunya menjadi perhatian utama pemerintah dalam penyusunan rencana pembiayaan di tahun depan,” jelas Bambang.

Ia mengakui defisit anggaran adalah hal yang tak terhindarkan dan perlu dikelola dengan baik. Namun, walau ada beberapa tekanan perekonomian baik dari eksternal maupun domestik, pemerintah masih optimis target dan rencana pembiayaan akan tercapai. “Selama 2014, pemerintah telah mampu memenuhi target penerbitan surat berharga, baik dalam bentuk obligasi konvensional maupun surat berharga syariah,” ujar Bambang. Baca: Target Sukuk Negara di Dalam Negeri Tercapai

Pada penerbitan surat berharga negara berdenominasi valas global baik obligasi global, sukuk global maupun penerbitan perdana obligasi berdenominasi Euro seluruhnya mencapai oversubscription. Ini menunjukkan tingginya antusias investor asing terhadap Indonesia. Sementara, dari sisi penerbitan domestik, dalam beberapa kali penerbitan surat berharga negara ritel selama tahun 2014 juga menunjukkan tingginya minat investor dalam negeri.