hindari spekulasi di pasar modal syariah

Saham Syariah Tak Berarti Bebas dari Spekulan

[sc name="adsensepostbottom"]

hindari spekulasi di pasar modal syariahMeskipun namanya saham syariah, namun bukan berarti bebas dan aman  dari ancaman spekulasi dari para investor spekulan. Justru cukup banyak saham syariah yang masuk di dalam Daftar Efek Syariah (DES) dipermainkan oleh para spekulan. Karena itu, bagi para investor yang hendak masuk  berinvestasi ke saham syariah, harus berhati-hati, dan cermat di dalam menentukan pilihan sahamnya. Praktisi pasar modal – M. Ridwan Novayanto kepada Yudi Suharso dari Sharing memberikan saran bagaimana berinvestasi saham syariah yang aman.

Seberapa aman saham-saham yang ada di Daftar Efek Syariah (DES)?

Kita bicara secara overall dahulu. Pergerakan saham-saham yang masuk indeks LQ 45 (saham paling likuid dan berkapitalisasi besar di BEI – red), dibandingkan dengan saham-saham JII, adalah relatif sama. Saham-saham LQ 45 (juga) sudah masuk ke JII.  Investor sendiri, baik asing, lokal, maupun investor institusi, mensyaratkan untuk masuk ke saham-saham yang likuid. Nah, JII yang sekitar 80%-nya adalah saham-saham LQ 45, adalah saham-saham yang likuid. Kemudian, JII juga termasuk saham-saham yang berfundamental baik, sehingga semua saham yang masuk JII, kita anggap relatif sangat aman. Saham-saham JII  juga ter-cover oleh analis-analis, baik dari dalam maupun luar negeri.

Nah, seberapa aman saham-saham syariah? Dari 240 saham yang ada di DES, yang masuk ke JII adalah 30 saham. Selain itu, ada 20 lagi saham di DES yang berfundamental baik. 50 saham inilah yang tergolong aman. Nah, sisanya lagi di DES,  kebanyakan adalah saham-saham yang non likuid. Semua saham tidur, dan tidak banyak transaksi. Sehingga saham-saham ini  cukup berisiko, alias tidak aman. Kalau pun ada transaksi, maka akan sangat unusual. Pasti akan bergerak seperti roller coaster.

Secara spesifik, kenapa saham-saham JII plus 20 saham lainnya, relatif aman? 

Dengan mempunyai karakter berfundamental baik, kapitalisasi besar,  dan juga likuid, maka saham-saham JII,  plus 20 tadi,  ini bisa diatur risk dan return-nya. Kalau kita berbicara analisis saham,  maka kita  melihat beta-nya, risiko-nya, lalu faktor valuasinya seperti apa? Serta kondisi industrinya bagaimana? Tapi kalau kita melihat JII, secara overall kesemua hal di atas bagus.

Kenapa JII aman? Karena saham-saham JII adalah saham-saham yang industrinya lumayan bagus. Seperti saham pertambangan, agrikultur, otomotif, juga aneka industri. Saham-saham ini, dengan kapitalisasi besar, maka risikonya relatif  lebih rendah. Risikonya juga akan sama dengan pasar. Kalau kita berbicara dalam dua tahun terakhir, dengan menggunakan data dua mingguan, saham-saham yang masuk JII ini adalah saham yang mendekati Beta 1. Beta 1 itu adalah 1% kenaikan IHSG akan berpengaruh ke 1% sahamnya. Jadi semuanya bergerak relatif positif,  atau negatif terhadap IHSG.  Jadi kondisinya adalah sama dengan rrsiko pasar.

Lalu bagaimana dengan prospek sekitar 190 saham DES lainnya, kalau anda hanya merekomendasi 30 saham JII plus 20 saham  dari DES?

Kita bicara keseluruhan IHSG dahulu. Saham yang berperan memajukan IHSG hanya 20% sampai 30%. Nah, sisanya yang 70% adalah saham tidur.   Nah, saham-saham  LQ 45, termasuk juga saham-saham JII, inilah sebenarnya yang berperan besar men-drive pergerakan IHSG sehari-hari, atau masuk yang kategori 20-30% itu.

Nah, saham-saham DES lainnya (diluar JII ,  plus 20 saham), adalah masuk ke sisa saham yang 70%  saham tidur itu. Itu adalah saham yang tidak banyak pergerakan. Kalau pun bergerak, kontribusi terhadap IHSG-nya tidak begitu besar. Karena cukup berisiko, maka tentu saja tidak direkomendasikan, meskipun saham itu masuk kategori syariah.

Kalau begitu, untuk saham-saham DES sisanya tersebut,  sangat rentan dimasuki spekulan?

Benar. Banyak malahan spekulan di sini. Saham tidur itu biasanya banyak dimainkan oleh spekulan. Kita lihat saja saham-saham yang harganya 50. Itu harga 50 ’kan mentok, nggak boleh turun lagi ke bawah 50. Nah, itu yang biasanya dimainkan oleh spekulan. Saat ini, di awal 2012,  juga masih banyak saham-saham yang masuk DES, dimainkan oleh investor spekulan. Jadi meski namanya saham syariah, nggak menjamin lepas dari spekulan. Karena yang bisa dimainkan oleh spekulan, adalah saham-saham yang kapitalisasinya kecil. Jadi mereka main lot-lot kecil, dan bisa mempermainkan harga yang sangat tinggi. Karena dengan volatilitas tinggi, maka risiko juga tinggi.

Namun demikian, saham-saham yang ada di JII pun, masih memungkinkan juga untuk dimasuki oleh spekulan, walaupun kemungkinannya kecil. Karena JII ini hampir sama dengan LQ 45, dimana banyak investor yang berperan besar di saham-saham ini, sehingga fundamentalnya bagus.

Bagaimana cara mengukur dan memprediksi volatilitas saham syariah di Indonesia?

Saham yang bervolatilitas tinggi, pasti risikonya tinggi. Jadi kalau saham yang tidur,  tiba-tiba naik, maka itu biasanya naik sampai sangat tinggi, dan itu merupakan risiko. Dan di dalam DES,  ada saham-saham yang mengalami hal tersebut. Namun, kalau saham DES yang masuk JII dan plus saham 20 tadi, itu relatif lebih aman. Karena pada saham-saham tersebut,  bukan  cuma ada beberapa investor yang bermain. Namun, industri, atau pun institusi seperti asset manajemen, head fund asing, semuanya bermain ke saham-saham big capt (kapitalisasi terbesar) tersebut. Intinya, di saham-saham big capt, biasanya hampir semua investor memiliki saham tersebut, sehingga aman. Nah, saham-saham JII adalah termasuk dalam saham-saham yang big capt. Jadi volatility-nya relatif sangat terbatas.

Sehingga kesimpulannya adalah: dengan volatility rendah, maka itu biasanya identik dengan risiko yang rendah. Sementara kalau volatility tinggi, maka itu berbicara risiko sangat tinggi. Jadi saham-saham yang masuk dalam JII,  relatif mempunyai volatilitas rendah, sehingga risikonya berarti juga rendah.

Baiklah, saat ini saham-saham syariah apa saja yang anda rekomendasikan untuk para calon investor?

Di agrikultur, ada Astra Agro Lestari. Kemudian di coal mining, ada Adaro dan Harum Energy, juga ITMG. Itu relatif diminati oleh para investor. Untuk metal mining, ada Inco yang juga relatif aman. Berikutnya, di  consumer goods, ada Indofood,  Kalbe Farma, itu merupakan saham-saham yang layak dikoleksi. Untuk bidang energi,  ada saham-saham seperti Perusahaan Gas Negara  (Pegas), dan Energi Mega Persada. Sementara untuk metal-nya, ada saham PT Timah yang juga layak dikoleksi. Di saham properti, ada juga beberapa yang layak dimiliki, misalnya, saham Alam Sutra yang juga punya potensi. Semua saham di atas masuk di dalam daftar JII.

Apa tips bagi mereka yang ingin berinvestasi di saham syariah?

Sebenarnya, kalau  kita berbicara saham, baik saham yang masuk kategori syariah atau pun yang tidak  (konvensional), saya pikir pendekatannya adalah relatif sama. Pendekatan yang paling benar adalah kita  harus bisa menganalisis. Paling tidak analisa secara dasar dari fundamental ekonomi. Minimal, kita bisa belajar technical analisis untuk saham ini.

Kita tetap harus berpikir analisa, karena tidak  bisa kita langsung masuk ke saham, namun hanya menjadi pengekor (follower), karena itu akan berisiko. Kita harus tetap berpegang analisa, bahwa saham ini industrinya bagus, lalu kondisi ekonominya juga mendukung tidak ke saham ini? Lalu apakah manajemen perusahaannya juga bagus? Track record manajemennya seperti apa? Itu bisa menjadi alasan kita untuk masuk ke saham tersebut.

Dan yang kedua adalah kita harus anggap saham itu adalah investasi jangka panjang. Jangan beranggapan untuk spekulasi. Saham ini bagus untuk investasi  pribadi yang sifatnya  jangka panjang. Karena jangka panjang, maka juga harus menyiapkan idle money, bukan uang kebutuhan sehari-hari yang kita pakai. Dengan orientasinya jangka panjang, saya pikir investasi di saham akan relatif aman.