Pada 2014 neraca transaksi berjalan Indonesia masih mengalami defisit sebesar tiga persen. Untuk menekan angka tersebut, salah satu langkah yang diupayakan adalah dengan membentuk perusahaan reasuransi berkapasitas besar.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman D Hadad, mengakui belum adanya perusahaan reasuransi berkapasitas besar membuat banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan reasuransi ke luar negeri. Ia mengungkapkan ada dua tahap yang dilakukan Kementerian BUMN untuk pembentukan reasuransi mega. Pertama, melakukan konsolidasi awal dan pemisahan induk dan anak perusahaan. Kedua, penggabungan seluruh reasuransi BUMN menjadi satu dan penambahan modal.
“Saya harap tahun ini Indonesia akan memiliki perusahaan reasuransi besar yang bisa mengurangi pembayaran ke luar negeri, sekaligus punya kemampuan cover bisnis asuransi yang semakin besar. Kalau kita punya reasuransi besar, maka akan melakukan penghematan juga,” ujar Muliaman. Baca: Ini Rencana Baru Pemerintah Turunkan Defisit Transaksi Berjalan!
- BPKH dan Bank Muamalat Gelar Synergy Roadshow 2026 di Bandung
- CIMB Niaga dan Cathay Hadirkan Solusi Perjalanan Internasional Lebih Efisien via Cathay Travel Fair 2026
- Bank Muamalat Catat Kenaikan Transaksi Sertifikasi Halal Secara Daring
- BCA Syariah, BEI dan Henan Sekuritas Berkolaborasi untuk Edukasi Keuangan Syariah Bagi Mahasiswa PNJ
Pembentukan reasuransi BUMN ini rencananya bernama Indonesia Re, yang merupakan hasil penggabungan antara Reasuransi Umum Indonesia dan Reasuransi Indonesia Utama, dan akan memiliki total ekuitas sekitar Rp 2,5 triliun. Direktur Utama Reasuransi Indonesia Utama, Frans Sahusilawane, menuturkan setelah resmi beroperasi, Indonesia Re kemungkinan akan membutuhkan tambahan modal sesuai rencana bisnisnya.
Indonesia Re berencana mengajukan penyertaan modal negara pada tahun anggaran 2016 sebesar Rp 3,5 triliun. Dengan demikian, Indonesia Re akan menjadi perusahaan reasuransi terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Indonesia Re juga akan merambah bisnis ke tingkat kawasan di Asia. “Indonesia Re akan beroperasional secara selektif di tingkat regional ASEAN, Asia, dan Afrika,” ujar Frans, dikutip dari Antara, Kamis (19/3).

